ARTIKEL:
HAKEKAT ADMINISTRASI BILA DI HUBUNGKAN DENGAN TEORI X,Y dan Z
NAMA:MARIA VIEENI VITAMI
PRODI:ILMU ADMINISTRASI NEGARA
FAKULTAS:FISIPOL
KELAS:A
UNIVERSITAS TRIBHUWANA TUNGNGADEWI
MALANG
2014
Sebelum menjelaskan tentang hakekat filsafat administrasi bila
di hubungkan dengan x,y dan z, saya akan mencoba memberikan sedikit pengertian tentang
filsafat dan administrasi.
Seperti yang telah kita kita ketahui, filsafat berasal
dari bahasa Yunani yang terdiri dari kata Philos
dan Sophia. Philos berarti gemar, senang atau cinta. Sophia dapat diartikan kebijaksanaan atau kearifan. Jadi, dapat
dikatakan filsafat berarti cinta kepada kebijaksanaan. Menjadi bijaksana
berarti berusaha mendalami hakikat sesuatu. Dengan demikian dapat pula
dikatakan bahwa filsafat berarti berusaha mengetahui
tentang sesuatu dengan sedalam-dalamnya, baik mengenai hakikatnya, funngsinya,
ciri-cirinya, kegunaannya, masalah-masalahnya, serta pemecahan-pemecahan
terhadap masalah-masalah itu.
Pokok utama yang dikaji dalam
filsafat adalah logika (tentang benar dan salah), etika (tentangbaik dan buruk)
dan estetika (tentang yang indah dan jelek). Administrasi dapat didefinisakan sebagai
keseluruhan proses kerja sama antara dua orang manusia atau lebih yang
didasarkan atas rasionalitas tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Ada beberapa hal yang terkandung dalam definisi diatas.
1.
Administrasi sebagai seni adalah suatu
proses yang diketahui hanya permulaannya sedang akhirnya tidak diketahui.
2.
Administrasi mempunyai unsur-unsur tertentu,
yaitu adanya dua manusia atau lebih, adanya tujuan yag hendak dicapai, adanya
tugas adanya tugas-tugas yang harus dilaksanakan, adanya peralatan dan
perlemgkapan untuk melaksanakan tugas-tugas itu. Kedalam golongan peralatan dan
perlengkapan termasuk pula waktu, tempat, pralatan materi serta sarana lainnya.
3.
Administrasi sebagai proses kerjasama bukan
merupakan hal yang baru karena ia telah timbul bersama-sama dengan timbulnya
peradaban manusia. Tegasnya administrasi sebagai seni merupakan suatu fenomena
social.
Filsafat administrasi adalah berpikir secara matang dan
mendalam terhadap hakikat dan makna yang terkandung dalam materi ilmu
administrasi. Berfilsafat merupakan rangkaian kegiatan atau aktivitas dengan
menggunakan pemikiran dan perasaan manusia. Pemikiran dan pemahaman ini
senantiasa bersifat memantul kepada diri sendiri untuk memahami pekerjaan,
pikiran, dan perasaan tersebut. Perasaan manusia selalu diarahkan untuk
menelaah fenomena yang dialami oleh manusia sehingga dapat melahirkan suatu
pemikiran. Berfilsafat adalah merenungi fenomena yang dihadapi oleh manusia, kemudian melahirkan
berbagai pertanyaan tentang fenomena itu.
Manusia
mempunyai tipe atau karakter yang berbeda di mana pola-pola dan tata cara
kehidupan manusia di tentukan oleh sekelompok masyarakat di sekitarnya.Di sini
saya akan menjelaskan bagaimana seorang pemimpin mampu melakukan inteferensi
terhadadap bawahannya. Menurut analisis saya jika karakter seorang pemimpin
dihubungkan dengan teori X, teori Y, dan teori Z maka akan terjadi seperti
berikut;
Karakter seorang pemimpin jika dihubungkan dengan teori X. Pemimpin pada teori X terkesan memandang segala sesuatu dari sisi negatif. Pekerjaan yang dilakukan, tidak bertanggung jawab dengan bawahannya. Tak jarang pemimpin dengan teori X ini dalam pengambilan kebijakan dan keputusan tidak tepat dan merugikan pihak lain serta dirinya sendiri, sehingga dampak dari pemimpin yang mengambil teori X ini tidak mempunyai tujuan yang baik dan benar.
Karakter seorang pemimpin jika dihubungkan dengan teori Y. Pemimpin yang karakternya bersandar pada teori Y mempunyai sifat yang bertentangan dengan teori X. Pemimpin ini mempunyai sifat yang baik, bijaksana,tanggung jawab, dan mempunyai relasi yang baik dengan bawahanya. Pemimpin ini juga bisa dikatakan pemimpin yang memiliki sifat kepemimpinan otoriter bijak. Setiap pengambilan keputusan berdampak baik dan mempunyai hasil yang bagus sehingga karakter pada pemimpin ini mempunyai tujuan yang pasti dan jelas demi kesejahtraan anggota dan ruang lingkup substansinya.
Karakter seorang pemimpin jika dihubungkan dengan teori Z. Pemimpin pada teori ini terkesan tegas, namun tidak fokus pada pekerjaannya. Terkadang ia mempunyai relasi yang baik dengan bawahannya terkadang tidak karena teori ini merupakan perpaduan antara teori X dan teori Z. Dalam pengambilan keputusan juga terkadang bijaksana terkadang pula tidak bijaksana. Maka hasil dari teori kepemimpinan ini tidak mempunyai tujuan yang pasti artinya tujuan itu berhasil di capai namun terkadang pula tujuan tersebut tidak tercapai.
Karakter seorang pemimpin jika dihubungkan dengan teori X. Pemimpin pada teori X terkesan memandang segala sesuatu dari sisi negatif. Pekerjaan yang dilakukan, tidak bertanggung jawab dengan bawahannya. Tak jarang pemimpin dengan teori X ini dalam pengambilan kebijakan dan keputusan tidak tepat dan merugikan pihak lain serta dirinya sendiri, sehingga dampak dari pemimpin yang mengambil teori X ini tidak mempunyai tujuan yang baik dan benar.
Karakter seorang pemimpin jika dihubungkan dengan teori Y. Pemimpin yang karakternya bersandar pada teori Y mempunyai sifat yang bertentangan dengan teori X. Pemimpin ini mempunyai sifat yang baik, bijaksana,tanggung jawab, dan mempunyai relasi yang baik dengan bawahanya. Pemimpin ini juga bisa dikatakan pemimpin yang memiliki sifat kepemimpinan otoriter bijak. Setiap pengambilan keputusan berdampak baik dan mempunyai hasil yang bagus sehingga karakter pada pemimpin ini mempunyai tujuan yang pasti dan jelas demi kesejahtraan anggota dan ruang lingkup substansinya.
Karakter seorang pemimpin jika dihubungkan dengan teori Z. Pemimpin pada teori ini terkesan tegas, namun tidak fokus pada pekerjaannya. Terkadang ia mempunyai relasi yang baik dengan bawahannya terkadang tidak karena teori ini merupakan perpaduan antara teori X dan teori Z. Dalam pengambilan keputusan juga terkadang bijaksana terkadang pula tidak bijaksana. Maka hasil dari teori kepemimpinan ini tidak mempunyai tujuan yang pasti artinya tujuan itu berhasil di capai namun terkadang pula tujuan tersebut tidak tercapai.
Manusia merupakan makhluk yang tidak pernah puas untuk
memenuhi kebutuhannya. Sebagai makhluk sosial, ia juga tidak dapat hidup tanpa
orang lain atau dengan kata lain, ia senantiasa membutuhkan bantuan orang lain
untuk memenuhi kebutuhannya yang tak terbatas itu. Seperti diketahui, bahwa
jumlah barang pemuas kebutuhan tidaklah sebanding dengan apa yang diinginkan.
Untuk itu, dibutuhkan suatu ilmu yang mampu mengatur bagaimana agar kebutuhan
tersebut dapat terpenuhi tanpa menimbulkan permasalahan antara satu dengan yang
lainnya.
Jadi kesimpulannya seorang pemimpin seharusnya memiliki karakter yg sesuai dengan teori Y karena berdampak baik. Namun dalam kehidupan bermasyarakat satu dengan yang lain terkadang pemimpin sering terjebak dengan teori X dan teori Z. Maka semua itu tergantung kembali kepada diri seorang pemimpin itu sendiri bagaimana dia mengimplementasikan kondisi permasalahan tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar